it’s the law

A mirror never lies, and neither does time and space as a reflection of what you’re thinking. If you put it out there, it has to come back. No matter how much it weighs, glitters, or costs.

It’s the law

Advertisements

Nityam’ Shudam

Nityam’ Shudam Nira’bha’sam’
Nira’ka’ra’m’ Nirarainjanam
Nitya Bodham’ Cid a’nandam
Gurur Brahma Nama’myaham

Eternal pure indescribable
Formless unblemished
Eternally knowing blissful consciousness
Brahma the supreme guru I pay my salutations

hanya ada satu jalan menuju Roma

The end of life is to be like God, and the soul following God will be like Him.

Socrates

Franciscus Assisi seoarang spiritualis, pengikut sejati teladan Kristus. Dalam awal setiap doanya, dia mengucapkan doa seperti doa pada umumnya, tentang permohonan, ucapan syukur, pertobatan, keluhan, pergumulan hidup dan seterusnya.

Namun ketika dia masuk pada tahapan merasakan Tuhan , dia hanya mampu mengucap dalam doanya:

“aku mencintai-Mu, Tuhan”.

dan hanya itulah yang dapat dia ucapkan dalam percakapan dengan Tuhannya.  saat itu hanya ada aku, cinta, dan Tuhan.

Sampai pada tahap  peleburannya dengan Tuhan, dalam ucapan doanya hanya terucap:

“Tuhan..Tuhan..Tuhan..”

Hanya Tuhan. saat itu  tanpa ada aku dan tanpa ada cinta, hanya Tuhan.

semua pengembaraan, pencarian, petualangan spiritual sebuah jiwa akan mengerucut pada satu titik yang sama, apapun metodologi yang diyakini. dan dari semua pilihan yang ada, hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan misi utama di pengembaraan ini, semua harus melewati evolusi dari mundane world (dunia fisik) , mind ( dunia pikir) dan spiritual.

Hanya lewat jalan inilah sebuah jiwa bisa kembali pulang kepada zat sumbernya,  dimana semuanya bearasal dan berawal.

take your time, don’t worry

Worry and time have an inverse relationship. The more you have of one, the less you have of the other. and both are suspended when you live in the now.

TUT

Mike Dooley

Fragile

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime’s argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are
On and on the rain will fall
Like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are

Gordon Matthew Sumner
taken from album: Nothing like the Sun

tale 3

If  God is everywhere, it must be everything

Ketika raja berkeliling kota untuk menemui rakyatnya, sang raja berhenti di sebuah pondok pertapaan  untuk berbincang-bincang dengan seorang pertapa tua yang menghuni pondok bersama seekor anjing peliharaannya.

setelah bertemu dan saling bertukar salam,  sesama pemuja Vishnu, sang raja memberikan  sekantung uang emas dan makanan pada si pertapa sebagai sedekah.

pertapa tua hanya mengangguk. Mengembalikan uang dan menerima makanan yang diberikan raja. Tanpa bicara, dia membuka bungkusan makanan, dan menempatkannya di atas piring kotor di lantai, tempat makanan anjingnya. kemudian dia duduk bersila di lantai, bersiap untuk makan sambil memanggil anjingnya untuk serta makan di piring yang sama, juga tidak lupa dia mengajak sang raja dengan santun untuk ikut serta dalam acara makan bersama tersebut.

Raja bingung campur tersinggung, bertanya-tanya apa maksud kelakuan si pertapa tua atas pemberiannya? kemudian raja berkata,

” wahai pertapa, jika engkau masih manghargai aku sebagai pemimpin di negeri ini, jelaskan biar aku mengerti dan paham atas pemikiran rakyatku di tanah yang aku pimpin.”

Sambil tetap menyantap makan siangnya bersama anjingnya, pertapa menjawab.

” tidakkah engkau lihat wahai Vishnu yang agung, hamba sang Vishnu sedang menyantap sang Vishnu beserta sahabat setia hamba sang Vishnu ? “

tale 2

I cannot teach anybody anything, I can only make them think.

Socrates

Tao Te Ching.  Di hari senjanya, sang guru memutuskan untuk menyepi ke Barat, ke wilayah Himalaya. Para murid berkeras untuk tidak melepaskan guru mereka menjemput ajalnya sendirian dalam pertapaan sepinya. Namun pada akhirnya terjadilah kesepakatan, sang guru diminta untuk menurunkan ilmu dan kebijaksanaannya dalam kitab tertulis sebagai  bekal dan petunjuk untuk para murid selepas sang guru pergi. Dengan berat hati, sang guru akhirnya menyepakati pengkitaban wahyunya.

dan hal pertama yang diberikan sang guru untuk murid-muridnya.

Semua Tao, yang mampu  dituliskan dalam kitab ini, adalah bukan Tao yang sebenar-benarnya.

green, green grass of home

andrey_nickolaevich_shilder_finland-country-house

The old home town looks the same
As I step down from the train
And there to meet me is my mama and papa
Down the road I look,  and there runs Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home
The old house is still standing
Though the paint is cracked and dry
And there’s that old oak tree that I used to play on
Down the lane I walk with my sweet Mary
Hair of gold and lips like cherries
It’s good to touch the green, green grass of home
Yes, they’ll all come to meet me
Arms reaching, smiling sweetly
It’s good to touch the green, green grass of home
Then I awake and look around me
To the cold grey walls that surround me
And then I realize, I was only dreaming
For there’s a guard and there’s a sad old padre
Arm and arm we walk at daybreak
Again, I’ll touch the green, green grass of home
Yes, they’ll all come to see me
In the shade of the old oak tree
As they lay me beneath the green, green grass of home

tale 1

big-old-tree

suatu masa di sebuah daerah terpencil di India, terjadi sebuah bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya. hujan turun terus menerus sepanjang ratusan hari lamanya, ditambah dengan amukan halilintar yang  menyebabkan banjir besar dan hancurnya pemukiman di seluruh daerah.

sampai pada hari ke 300 hanyalah sebuah desa di kaki gunung yang tertinggal, belum tersapu banjir besar namun  terancam dari badai halilintar. desa tersebut seperti desa pada umumnya, terdiri dari penduduk yang beraneka, ada yang bekerja sebagai petani, pedagang, pengurus desa, kepala suku, pemuka agama dan lainnya.

setelah diadakan suatu pertemuan di sebuah dataran di bukit, mereka semua yang berjumlah ratusan penduduk akhirnya sepakat untuk meninggalkan desa mereka dan beramai-ramai naik ke puncak gunung tertinggi, dimana di atas sana terdapat sebuah pohon tua keramat, yang amat rindang dan besar. pohon tersebut dipercaya memiliki kekuatan yang melindungi mereka dari amukan alam dan menjadi tempat perlindungan terakhir yang mereka miliki dari kemusnahan.

setelah semua penduduk sudah sampai di pohon perlindungan, badai dan hujan deras tidak juga kunjung reda. akhirnya setelah berhari-hari mereka berlindung, penasihat desa, sebagai pemuka agama  dan yang dituakan di desa tersebut angkat bicara.  Dia berkesimpulan bahwa ada di antara mereka yang ikut berlindung adalah seorang yang  berdosa besar dan karena itulah alam tidak akan berhenti menghancurkan semua sebelum orang ini musnah.  karena amukan alam dipercaya tidak dapat menembus pohon perlindungan,  diputuskan suatu cara untuk memilah orang berdosa diantara mereka.

agar satu persatu dari mereka harus berjalan sendiri keluar dari naungan pohon besar berjalan menuju ke sebuah pohon kering berjarak 500 meter dari pohon besar, untuk diam sejenak kemudian kembali. penasihat desa percaya, jika orang itu yang dicari, dia akan hangus tersambar halilintar pada saat keluar dari naungan pohon besar.

walau rasa takut terasa sangat, tidak ada satu pilihan bagi mereka selain untuk tetap menjalankan cara tersebut.
proses pun dimulai oleh penasehat desa yang berjalan ke pohon kering, dia berdiam disana beberapa saat kemudian berjalan perlahan kembali menuju perlindungan. dan dia selamat. satu- satu penduduk mulai menjalankan proses tersebut, dan semuanya merasakan perasaan takut yang sama sebelum mereka berangkat, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang merasa percaya diri sempurna bersih dari kesalahan.  Dan semuanya pula merasakan perasaan yang sama ketika berhasil pulang kembali ke pohon besar,  merasa bersih, dan meyakini bahwa dosa yang lain lebih besar dari dosa yang mereka miliki.

satu demi satu berlalu..
tidak terjadi suatu apapun.

sampai pada akhirnya tinggal satu orang tertinggal yang belum melakukan penyaringan. semua mata melihat ke arah orang itu, sebagian berdecak kasihan, sebagian  menghujat dan menghakimi karena orang itu dianggap telah membahayakan keselamatan banyak jiwa, tapi keyakinan dari mereka semua sama..

dialah si pendosa!

setelah berpamitan dan mohon maaf pada semua orang di desa, berat hati, ketakutan dan rasa bersalah  memenuhi hati orang tersebut, dia mulai menjalani penyaringan. semua penduduk desa melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan terakhir.
orang itu mulai berjalan menuju pohon kering, menjemput ajal, menyiapkan hati untuk binasa diamuk alam.
jalan, sampai pada pohon kering, dengan bercucuran airmata, dia mulai berdiri dan menanti isyarat alam menjemput mautnya.
seketika itu..
BLAARR..!
terdengar sebuah halilintar yang maha dahsyat menyambar..

membakar dan membinasakan  semua penduduk desa yang berlindung di bawah pohon besar..

Newer entries »